Dua Tahanan Murni Meninggal Karena Sakit, Kapolsek Sunggal Bebas dari Sanksi Hukum -->

KADIS LH SUMUT

KADIS LH SUMUT
Dr TENGKU AMRI FADLI, MKES

Advertisement

Advertisement

Dua Tahanan Murni Meninggal Karena Sakit, Kapolsek Sunggal Bebas dari Sanksi Hukum

Rabu, 14 Oktober 2020


pewartaonline.com
| MEDAN- Kapolsek Sunggal Kompol Yasir Ahmadi bebas dari sanksi hukum. Sebab, tewasnya dua orang tahanan di Polsek Sunggal itu karena sakit.

Hal itu dibenarkan oleh Kapolrestabes Medan Kombes Pol Riko Sunarko kepada wartawan, Rabu (14/10/2020) sore.

Orang nomor satu di Polrestabes Medan itu menegaskan, Kapolsek Sunggal yang diperiksa Propam Polda Sumut bebas dari sanksi hukum.

"Ia (Kapolsek Sunggal) bebas dari sanksi hukum, sebab tewasnya dua orang di tahanan Polsek Sunggal itu karena sakit," kata Kombes Pol Riko Sunarko.

Lanjut dikatakan Riko, dua tahanan yang tewas itu Joko Dedi Kurniawan dan Rudi Efendi ternyata diberikan pelayanan serta perawatan terbaik dirumah sakit. Bahkan, kedua keduanya sempat dirawat lima kali," jelas orang nomor satu di Polrestabes Medan.

Riko menjelaskan bahwa pihaknya tidak pernah melakukan intervensi terkait adanya langkah keluarga kedua tahanan tewas tersebut.

“Tidak ada intervensi dan saat ini proses hukum sudah dilakukan oleh Propam Polda Sumut dan dari pemeriksan yang dilakukan itu tidak terbukti.

“Saya akan melaporkan kembali terkait kematian dua tahanan Polsek Sunggal yang tidak terbukti dianiaya petugas, ” imbuhnya.

Bahkan, tambah Kombes Riko, para tahanan itu tidak pernah dipisah – pisahkan selama di penjara Polsek Sunggal. semasa hidupnya juga kedua tahanan, Joko Dedi Kurniawan dan Rudi Efendi diberikan pelayanan yang terbaik seperti tahanan lainnya yang ada di Polsek Sunggal, ” terang Kombes Riko.

Sementara itu, Kapolsek Sunggal Kompol Yasir Ahmadi SH SIK MH, melalui Kanit Reskrim AKP Budiman Simanjuntak SH MH, membantah kematian tersangka Joko dan Rudi Efendi akibat dianiaya oknum petugas.

Dijelaskan Kanit, awalnya tersangka ditahan di RTP Polsek Sunggal atas kasus pencurian dengan kekerasan dengan modus mengaku sebagai petugas kepolisian bersama dengan beberapa orang temannya.

Dilanjutkan Kanit, setelah ditahan tersangka Joko dan Rudi Efendi mengalami sakit beberapa kali, yaitu, tanggal 23 September 2020, tersangka mengalami sakit dengan keluhan lambung dan kepala selanjutnya penyidik membawa tersangka ke RSU Bhayangkara, setelah diperiksa dokter, tersangka diperbolehkan pulang, tanggal 25 September 2020, tersangka mengeluh sakit selanjutnya dibawa berobat kembali ke RSU Bhayangkara dengan keluhan lambung dan kepala setelah di periksa oleh dokter, tersangka disarankan untuk opname.

Pada saat itu, penyidik langsung memberitahukan kepada keluarganya yang selanjunya ikut menemani tersangka. Setelah diopname selama 3 (tiga) hari, dokter yang merawat menyatakan tersangka sudah sembuh dan diperbolehkan pulang tepatnya tanggal 28 September 2020.

Selanjutnya pada tanggal 29 September 2020, tersangka kembali mengeluh sakit, dan setelah diperiksa dokter, tersangka diperbolehkan meninggalkan RSU Bhayangkara.

Tanggal 1 Oktober 2020 tersangka mengeluh sakit dan dibawa kerumah sakit setelah di periksa tersangka diperbolehkan meninggalkan RSU Bhayangkara. Tanggal 2 Oktober 2020 sekira pukul 08.00 WIB, tersangka mengeluh sakit selanjutnya petugas langsung membawa ke RSU Bhayangkara dan dilakukan perawatan oleh dokter, setelah ditangani dokter yang merawat, tersangka dinyatakan meninggal dunia.

Ditambahkan Kanit lagi, bahwa saat dalam perjalanan menuju RSU Bhayangkara, pihaknya telah menghubungi keluarga tersangka dan memberitahukan kondisi tersangka yang kembali sakit.

“Setelah dinyatakan meninggal dunia oleh dokter, pihak Polsek Sunggal sesuai dengan SOP yang ada dan koordinasi dengan pihak kedokteran untuk dilakukan otopsi terhadap jenazah tersangka, namun pihak keluarga tsk dalam hal ini adalah istri dan paman tsk bermohon dengan sangat agar tidak dilakukan otopsi terhadap jenazah tsk dan membuat surat permohonan tidak dilakukan otopsi, meskipun dari Polsek Sunggal sudah menyarankan agar mereka berembuk terlebih dahulu dengan keluarga yang lain, namun mereka atas nama keluarga almarhum alias Joko menyatakan ikhlas atas kematian Joko dan memohon agar tidak dilakukan otopsi jenazah, ” ujarnya.

Atas dasar permohonan keluarga tersangka tersebut, pihak Polsek Sunggal selanjutnya meminta kepada dokter agar dilakukan visum luar saja dan usai dilakukan visum selanjutnya, jenazah diserahkan kepada pihak keluarganya untuk dikebumikan.

“Jadi tidak benar jika dikatakan bahwa terhadap tersangka Joko ada penganiayaan yang dilakukan oleh oknum Polsek Sunggal," tegas Kanit.

Dalam kasus polisi gadungan itu, pihak Polsek Sunggal berhasil mengamankan 8 orang sebagai polisi gadungan yang berhasil merampas sepeda motor para korban di wilayah hukum Polsek Sunggal tiga pekan lalu.

Mereka masing-masing, Muhammad Budiman (38), Khairunnisa (18), Supriyanto (38), Edi Saputra (31), Yoga Erlangga (28), Diki Ari Wibowo (28), Yudi Hartono, Sukirman (31), dan Rudi Effendi (40).

Sebelumnya, pengungkapan komplotan polisi gadungan yang ditangkap polisi ini berawal dari laporan korban JP (15) warga Jalan Asoka, Asam Kumbang ke Polsek Sunggal.

Sementara tahanan Sunggal Edi Syahputra adik kandung dari Almarhum Joko mengaku, abangnya meninggal bukan dianiaya namun karena sakit dan mempunyai riwayat sakit di kepala.

“Polisi tidak ada menganiaya, Abang saya sakit itu, ” tandasnya. (Red)