Penertiban Warkop Elisabeth Ricuh, Pedagang Berontak

Penertiban Warkop Elisabeth.
MEDAN, POC - Ratusan petugas Satpol PP Kota Medan bersama kepolisian 'meratakan ' Warkop Elisabeth di Jalan H Misbah, Medan, Kamis (1/8/2019). Aksi pembersihan ini berlangsung ricuh, lantaran pedagang menolak digusur.

Meski disertai aksi perlawanan, jerit dan tangis para pedagang, namun petugas tetap membongkar lapak-lapak warkop yang sudah ada sejak belasan tahun lalu itu. Pedagang pun akhirnya tak bisa berbuat apa-apa, hanya berupaya menyelamatkan barang-barang dagangannya.

Seperti diketahui, keberadaan warung kopi dan parkir yang semrawut kerap mengganggu akses mobil ambulance saat membawa orang sakit/pasien keluar masuk Rumah Sakit Elisabeth yang berada tepat di depan warkop.

Selain itu disebut, kios pedagang berada diatas parit yang kerap menutup saluran air.

Sebelumnya, pihak RS Elisabeth sudah sering mengeluhkan keberadaan parkir dan pedagang di depan rumah sakit. Keluarga pasien selalu mengeluh saat membawa orang sakit masuk rumah sakit.

Bahkan, pihak RS sudah pernah berdelegasi ke DPRD Medan tahun lalu dan berharap penataan parkir dan pedagang dilakukan. Pada saat itu pihak RS dan DPRD Medan disepakati dilakukan penataan.

Sebelum melakukan penertiban, Satpol PP telah melayangkan beberapa kali surat peringatan agar tidak berjualan di median jalan. Namun karena surat peringatan tak digubris, petugas akhirnya melakukan pembongkaran.

Bayar Sewa Rp 50 Juta

Para pedagang tak mampu menahan kesedihan melihat lapak warkop mereka mulai rata dengan tanah. Meski pasrah, namun mereka tetap berharap kiranya Pemko Medan dapat memfasilitasi tempat kios berjualan ke depan. Sebab, hanya dari usaha dagang mereka bisa menghidupi ekonomi keluarga. Apalagi beberapa pedagang mengaku sudah mengeluarkan biaya untuk pembayaran sewa lapak yang nilainya puluhan juta rupiah per tahunnya.

Seperti pengakuan salah satu pemilik warkop, Ani yang sehariannya berjualan nasi dan minuman. Baru pekan lalu Ani membayar sewa kios Rp 50 juta untuk 2 tahun ke depan. Tak nyana, malah sudah digusur.

Ani juga mengaku sudah 10 tahun berjualan di Warkop Elisabeth. Wanita ini berharap uang Rp 50 jutanya dapat kembali. Sedangkan, keberadaan nasib pedagang supaya diperhatikan Pemko Medan. "Kami berharap ada lokasi lain tempat kami berjualan. Kalaupun pedagang harus direlokasi hendaknya ke tempat yang lebih baik,"pintanya. (mar)