Massa Demo RSU Adam Malik Dibubarkan Sejumlah Preman

MEDAN, POC - Aksi unjuk rasa massa Jaringan Masyarakat Mandiri (JMM) Sumatera Utara  di RSUP H Adam Malik dibubarkan sejumlah pria yang diduga preman, Selasa (8/1/2019).

Ditengarai lantaran aksi massa menolak rencana tim Joint Commision International (JCI) akan  memberikan akreditasi internasional terhadap RSUP H Adam Malik, sehingga demo dibubarkan.

Awalnya, orasi massa yang berjumlah kurang lebih 20 mahasiswa ini berjalan lancar dengan pengawalan ketat dari kepolisian sekitar pukul 08.30 wib. Sama seperti aksi JMM sehari sebelumnya di JW Marriot, mereka konsisten menyuarakan aspirasinya menolak JCI memberikan akreditasi internasional terhadap RSUP H Adam Malik karena dianggap belum layak atas kinerja pelayanannya bagi pasien.

"Dalam aksi itu, kami sempat didatangi oleh oknum yangg tak dikenal. Mereka menyuruh kami bubar hingga terjadi percekcokan, namun tidak sampai pukul pukulan dan syukurnya kepolisian datang waktu untuk meredamkan percekcokan tersebut," kata Ketua Umum JMM Sumut, Fahrul Rozi Harahap.

Karena sudah terjadi adu mulut, Fahrul dan teman-temannya mengalah untuk membubarkan diri secara tertib. "Melihat situasi dan keadaan, saya selaku Ketua umum JMM Sumut langsung menghentikan unjuk rasa dan meminta kepada rekan-rekan naik ke angkot dan langsung pulang. Dalam kejadian ini tidak ada terjadi pemukulan atau kekerasan. Hanya saja angkot kami disuruh pergi," ungkapnya

Sebelumnya, predikat akreditasi internasional yang digadang akan disandang oleh RSUP H Adam Malik menuai protes dari masyarakat karena dianggap belum layak.
Dalam orasinya, pengunjuk rasa membentangkan dua spanduk yang berisi tentang pemberintaan kinerja buruk RSUP H Adam Malik.

Untuk menyandang predikat akreditasi internasional, RSUP H Adam Malik terlebih dahulu akan mendapat penilaian layak atau tidak dari tim Joint Commission International (JCI).

"Kami menilai RSUP H Adam Malik belum layak mendapatkan status akreditasi internasional dari JCI. Sebab, diduga masih buruknya pelayanan, ketidaksiapan dan diduga masih marak korupsi dan mark up," ujarnya.

Diketahui, tim JCI saat ini dikabarkan sedang berada di Medan dan menginap di JW Marriot.
Kedatangan tim JCI yang berasal dari Amerika Serikat untuk melakukan penilaian kedua kalinya terhadap RSUP H Adam Malik setelah sebelumnya diberikan kesempatan untuk melengkapi beberapa persyaratan.

"Kami berharap, tim JCI jangan hanya melihat gedung mewah RSUP H Adam Malik, tapi lihatlah pelayanan yang diberikan kepada masyarakat," ujarnya.

Usai berunjuk rasa, Fahrul mengatakan, aksi mereka murni untuk kemanusian melihat betapa mirisnya pelayanan yang diberikan RSUP H Adam Malik. Apalagi, rumah sakit berplat merah ini menjadi kandidat akreditasi internasional.

"Pernyataan kami bukan tanpa alasan. Kita ketahui, banyaknya pelayanan-pelayanan yang tidak siap dari RSUP H Adam Malik. Contoh, kasus bayi Jessica yang awalnya cuma check up, berujung kematian. Kemudian, pasien kurang mampu, tapi ditegur atau diduga diminta biaya oleh oknum dokter," katanya.

JCI merupakan tim penilai dari luar negeri yang sudah terbentuk 50 tahun lamanya. Tugasnya, yakni mengevaluasi dan mendedikasikan diri dalam peningkatan kualitas dan keselamatan kesehatan.
Dari ribuan rumah sakit di Indonesia, baru beberapa rumah sakit yang berhasil mendapatkan akreditasi dari JCI. Salah satunya Rumah Sakit Premier Bintaro mendapatkan akreditasi JCI pada 15 Januari 2011 lalu dan merupakan rumah sakit pertama di Indonesia yang menggunakan standar terbaru edisi 4 pada tahun 2011.

"Tadinya kami ingin memberikan bentuk laporan berupa bukti-bukti ke JCI bahwa RSUP H Adam Malik tidak layak mendapat akreditasi internasional. Alasannya bukan hanya pada pelayanan, tapi kami juga menduga juga manajemen keuangan yang bobrok," kata Fahrul. (maria)