Menggali Potensi Danau Toba Menuju 1 Juta Wisman

MEDAN, POC - Danau Toba merupakan salah satu potensi pariwisata di Sumatera Utara yang diprioritaskan untuk menarik minat wisatawan mancanegara (wisman) agar berkunjung ke Indonesia. Namun potensi ini butuh penggalian lebih mendalam dan penyatuan persepsi dari 7 kabupaten yang mengelilingi danau terbesar di dunia ini.

Adapun tujuh kabupaten yang berada di sekitar Danau Toba yaitu Kabupaten Dairi, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Karo dan Kabupaten Tapanuli Utara.

Hal inilah yang menarik minat Forum Jurnalis Pariwisata (Forlispar) Danau Toba untuk mencari tahu apa permasalahan yang membuat salah satu keajaiban dunia ini kalah jauh dibandingkan Bali. Bertemakan 'Menggali Narasi Toba, Forlispar menggelar seminar yang dihadiri mahasiswa dari beberapa universitas di Medan, Kamis (13/12/2018). Narasumber yang berperan di seminar ini antara lain, Antropolog Universitas Sumatera Utara (USU) Fikarwin Zuska, Pakar Etnomusikologi USU Irwansyah Harahap dan Praktisi Media Besihar Lubis.

Fikarwin Zuska memaparkan, Danau Toba sangat potensial menarik wisman dengan keanekaragaman adat istiadat yang dimiliki 7 daerah di sekelilingnya. "Ada beberapa isu utama Danau Toba, diantaranya suku bangsa. Danau Toba itu bukan hanya suku Batak Toba saja, tapi juga ada suku Karo, Simalungun dan Pakpak. Akibat adanya satu suku yang kerap ditonjolkan, sehingga membuat suku lain tersisih. Perlu kolaborasi wacana kebersamaan antar suku, keanekaragaman 7 unsur kebudayaan universal dan menyatukan seluruh kekuatan serta potensi untuk keuntungan bersama. Selain itu, perlu kajian alamiah, perlu visualisasi, ekpresi, simbol yang konkrit,''ujar pakar antropolog ini.

Berdasar kajian akademik, lanjut Fikarwin, kualitas air Danau Toba sudah tercemar. Ini menjadi salah satu penyebab kurangnya minat wisman berkunjung akibat tak terjaganya ekosistem alam. 

Sementara Bersihar Lubis mengingatkan agar para birokrat 'minggir' mengurus Festival Danau Toba (FDT). Menurutnya, pebisnis lebih paham menjual event ketimbang birokrat. "Serahkan saja kepada kalangan swasta, karena pebisnis lebih mengetahui apa yang layak jual dan tidak. Mereka juga punya networking,"bilang pimpinan media salah satu terbitan di Medan ini.

Dibanding dengan Bali, Sumut sangat kalah jumlah kedatangan turis asing. "Kita cemburu melihat Bali, pada Juli 2018 jumlah turisnya mencapai 600 ribu. Itu satu bulan saja, sedangkan kita setahun hanya 250 ribu. Pemerintah menargetkan tahun depan sejuta wisman di Sumut, kita tidak tahu apakah ada keajaiban untuk mencapai jumlah ini,''ujarnya seraya mengingat kembali di tahun 1990-an sekitar 170 ribu wisman berkunjung ke Sumut. Namun di tahun 1995, jumlah ini meningkat mencapai 350 ribu wisman berkat musik Sumatera Utara go internasional.

"Festival danau tiba seyogyanya lebih banyak berkolaborasi dengan komunitas-komunitas, pemangku kebudayaan. Bagaimana cara suku Batak menyapa Tuhan dengan menabuh gondang, ini juga menarik. Religius dan memiliki daya tarik seni tinggi. Infrastruktur jalan juga harus dibenahi. Aneh juga kan, ketika Dollar AS semakin perkasa, tapi tak membuat turis asing datang berduyun-duyun. Logikanya, dolar tinggi tentunya turis akan datang karena belanja perjalanan akan semakin murah di Indonesia,''kata Bersihar meminta agar tak dilupakan unsur magisme dan yang akan menarik minat wisman mengunjungi Danau Toba.

Sebelumnya, Ketua Forlispar Danau Toba Prayugo Utomo dalam sambutannya mengatakan, pihaknya sengaja mengambil tema 'Menggali Narasi Toba' untuk mengulas kembali potensi-potensi apa saja yang bisa digali untuk mengembangkan wisata di sana. "Sebagai jurnalis yang beraktifitas di Sumatera Utara, Forlispar juga punya tanggung jawab untuk mengembalikan kejayaan Danau Toba. Kegiatan ini untuk menggali narasi-narasi kebudayaan di Toba untuk kembali dikemas dan disampaikan kepada masyarakat dunia,''kata Prayugo.

Acara ini dibuka oleh Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Arie Prasetyo. Pada kesempatan itu, Arie menyampaikan pihaknya meningkatkan berbagai aspek guna menambah kunjungan wisman. Salah satunya dengan menampilkan atraksi budaya dan pemandangan dari danau vulkanik tersebut. Upaya ini dilakukan dalam rangka mencapai target 1 juta wisman berkunjung ke Sumut.

"Saat ini aspek pembangunan keparisiwataan itu mulai berjalan. Misalnya untuk aksesibilitas, kualitas bandara serta jalan-jalan di sekitar kawasan Danau Toba sudah ditingkatkan. Pemerintah bahkan telah menghadirkan penerbangan internasional langsung dari Jakarta dan sejumlah negara tetangga, langsung ke tepi Danau Toba. Akses akan ditingkatkan. Banyak kapal baru yang akan masuk. Nanti juga ada shuttle bus seperti Damri. Kita ingin membangun nuansa yang kental. Pengembangan SDM juga perlu ditingkatkan. Banyak yang harus kita lakukan. Promosi juga perlu dilakukan untuk peningkatan kunjungan karena kita ingin perekonomian tumbuh di Danau Toba," pungkasnya. (maria)