Trafo Meledak, Pompa Air Tergenang, Distribusi Air Tirtanadi Terganggu

MEDAN, POC - Banjir yang melanda Kota Medan Sabtu (15/9) ditambah meledaknya trafo PLN di Paya Geli Minggu (16/9) mengakibatkan distribusi air PDAM Tirtanadi di sejumlah daerah di Medan sekitarnya terganggu hingga Senin (17/9/2018) masih belum normal 100 persen. Sebelumnya suplai air bahkan sempat terpaksa dihentikan karena pipa terendam banjir.

Sekretaris Dewan Pengawas (Dewas) PDAM Tirtanadi Hasban Ritonga mengakui akibat bencana alam itu, distribusi air di hampir wilayah Kota Medan terganggu. “Kalau IPA Sunggal terganggu, maka sebagian wilayah di Medan menjadi terganggu karena distribusi air terbesar dari IPA Sunggal,” kata Hasban saat temu ramah Dewas PDAM Tirtanadi dengan wartawan yang tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan PDAM Tirtanadi di lantai 4 Kantor PDAM Tirtanadi Jalan SM Raja Medan, Senin (17/9/2018)

Turut hadir dewas lainnya, yakni Tengku Fahmi Johan dan  Farianda Putra Sinik bersama Direksi PDAM Tirtanadi yang diwakili Kepala Sekretaris Jumirin.

Diketahui, pada Minggu (16/9) sekitar pukul 03.31 WIB terjadi  gangguan kubikel 20.000 Volt dan Trafo Daya 150.000 Volt di Gardu Induk Paya Geli Medan menyebabkan terjadinya gangguan suplai energi listrik yang mengakibatkan pemadaman listrik di beberapa kawasan kota Medan.

Hasban mengakui selain distribusi terganggu, kondisi air juga keruh. Sehingga pasokan air terpaksa dihentikan, namun petugas di lapangan terus berupaya memperbaiki. Fungsi Dewan Pengawas, kata Hasban, hanya mengawasi, memberikan rekomendasi atau menegur direksi tanpa bisa mengambil tindakan lain.

Pada kesempatan itu, Jumirin menambahkan akibat banjir, yang terkena dampak yakni cabang Diski, Water Treatment Plant (WTP) mini Jalan Karsa di Cabang Sei Agul dan WTP Kelambir Lima.Sedangkan akibat trafo di Paya Geli meledak, daerah yang terganggu yakni Padang Bulan, Sunggal, Diski, Sei Agul, Tuasan, HM Yamin dan Medan Kota.

Menurut Jumirin, akibat banjir sehingga pipa pecah, otomatis operasional terhenti. Setelah selesai dibetuli, maka pipa harus dipadati dulu dengan air sampai penuh dibuka dulu supaya sampah-sampah yang masuk ke pipa keluar. “Kondisi ini butuh waktu, jadi tidak bisa seperti perbaikan listrik PLN, kalau hidup, langsung listrik teraliri,” katanya.

Sementara itu, gangguan trafo di Paya Geli, listrik diganti dengan genset menyebabkan operasional di IPA tak maksimal, hanya berfungsi 70-80 persen. Jumirin juga tak menampik kondisi air keruh. Hal itu disebabkan, air bercampur lumpur dan banyaknya sampah yang terbawa arus air. Tak hanya itu, pihaknya terpaksa mematikan pompa air karena terendam.

Meski pengoperasian menggunakan genset, namun pendistribusian air tak bisa optimal. “Sampai hari ini (Senin, 17/9) belum sepenuhnya normal distribusi air karena ada pengisian pipa. Kami masih mengupayakan agar pelayanan tetap maksimal,” ujarnya. (maria)